Sabtu, 29 November 2014
Pengantar Ilmu Pendidikan
DIMENSI-DIMENSI KEMANUSIAAN MANUSIA
Kajian tentang dimensi-dimensi kemanusiaan manusi merupakan pokok kajian antropologi metafisika. Kajian yang tertampung dalam antropologi metafisika tentang manusia samapai pada kesimpulan bahwa manusia merupakan makhluk individu, social, susila, dan religious.
1. Manusia sebagai Makhluk Individu
Pengertian manusia sebagai makhluk individu adalah bahwa manusia itu bersifat unik atau khas. Jadi, tidak ada manusia didunia ini, yang jumlahnya telah mencapai enam miliar lebih, yang sama persis. Pengertian ini untuk masa mendatang barangkali dapat dihujat, sehubungan ditemukannya bioteknologi yang memungkinkan untuk membuat manusia kembar, melalui metode cloning. Para pembela pendapat ini berkeyakinan bahwa informasi karakter manusia terletak pada gen, dan masa mendatang dimungkinkan untuk membuat manusia yang mempunyai gen yang sama persis (teknologi demikian pada binatang telah lama ditemukan). Hal ini dibenarkan kalau perilaku manusia hanya ditentukan oleh pembawaan saja. Padahal saat ini para pakar psikologi dan pendidikan umumnya sepakat akan pendapat Wiliam Stern, bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan (pendidikan). Pandangan ini sepaham dengan pendapat Kurt Lewin (1957) bahwa perilaku manusia merupakan fungsi dari kepribadian dan lingkungan, atau dengan model matematika sebagai berikut :
TL=f(K+L)
TL= Tingkah Laku
K= Kepribadian
L= Lingkungan
Prediksi akan adanya manusia kembar (dalam arti sama persis bantuk dan perilakunya) hanya akan benar kalau manusia hanya dilihat dari bentuk fisik dan pembawaannya saja. Akan tetapi kalau manusia dilihat secara menyeluruh, dlam arti jiwa raga, dan segala bentuk perilakunya., akan tetap menunjukkn gejala unik dan khas, atau tetap menunjukkan sebagai makhluk individu. Kesadaran manusia akan keindividualitasan dirinya bias mengarah pada dua dimensi yaitu dimensi kedirian dan dimensi keegoisan (Puspowardoyo, 1987).
Kesadaran kedirian yang dimulai dengan kesadaran adanya pribadi diantara segala realitas, merupakan pangkal adanya kesadaran terhadap segala sesuatu. Denggan bahasa filsafat dinyatakan dengan self-existence adalah sumber pengertian adanya segala sesuatu (Noor Syam, 1983). Self-existence ini mencakup pula pengertian kepribadian, perasaan, dan perbedaan pribadi, self realization, kesadaran potensi pribadi dan sebagainya.
Adapun dimensi keegoisan dalam skala mikro mengarah pada sikap mau menang sendiri. Sedangkan dalam skala makro mengarah pada paham kebangsaan yang sempit (chauvinistic). Dalam konteks kependidikan, dalam kaitannya dengan manusia sebagai makhluk individu, perlu kiranya memandang peserta didik sebagai subjek, bukan sebagai objek. Hal ini bukan semata-mata karena keengganan untuk mengobjekkan manusia tetapi mempunyai dasar filosofilk dan psikologik yang mapan. Pandangan peserta didik sebagai subjek ini, mengandung makna bahwa peserta didik tersebut mempunyai hak asasi menjadi dirinya sendiri. Perilaku pendidik yang demikian disamping sesuai dengan konsep manusia sebagai makhluk individu, juga memungkinkan untuk pengembangan kreativitas peserta didik.
2. Manusia sebagai Makhluk Sosial
Begitu manusia menyadari dirinya sebagai subjek, sekaligus menyadari akan adanya subjek-subjek yang lain. Antara subjek dengan subjek-subjek yang lain ada hubungan yang mengikat, artinya keberadaan suatu subjek di antaranya ditentukan oleh keberadaan subjek-subjek yang lain.
Sewaktu manusia baru lahir, ia merasa satu dengan lingkkungan terutama dengan ibunya. Baru kemudian ia menentukan dirinya sebagai subjek yang dibedakan dengan subjek-subjek yang lain. Selanjutnya manusia tersebut, tumbuhg dan berkembang dari dan dalam masyarakat.
Dengan demikian, perwujudan manusia sebagai makhluk social dimulai dari adanya kenyataan bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup (lahir dan dibesarkan) tanpa bantuan orang lain. Orang lain tersebut paling tidak adalah kedua orang tua dan keluarganya.
3. Manusia sebagai Makhluk Susila
Asas pandangan bahwa manusia adalah makhluk susila bersumber pada asumsi bahwa budi nurani manusia secar apritiori adalah sadar nilai dan pengabdian norma-norma (Noor Syam, 1983). Kesadaran moral (sense of morality) ini, tidak terlepas dari realitas social. Hal ini karena adanya efektivitas nilai-nilai, serta berfungsinya nilai-nilai itu hanya adadalam kehidupan social. Demikian pula sebaliknya di dalam hubungan social juga terdapat nilai-nilai.
Dalam hal ini manusia selain makhluk yang mengetahui nilai juga merupakan makhluk yang menilai (Morris and Pai, 1976). Dalam hal-hal tertentu penilaian yang sifatnya subjektif, akan tetapi manakala subjektivitas ini sudah menjadi milik bersama sifatnya dapat dikatakan menjadi objektif.
Kalau diliht dari sumbernya, nilai termasuk nilai susila, dapat berasal dari Tuhan dan dapat berasal dari manusia. Nilai yang sumbernya berasal dari Tuhan sifatnya mutlak dan hakiki. Sedangkan nilai yang berasal dari manusia sifatnya relative. Namun demikian dalam hal-hal tertentu manusia berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dianggap fundamental dan membiarkan nilai-nilai lain yang dianggap instrumental untuk berubah. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila misalnya, dianggap merupakan nilai-nilai fundamental. Sedangkan nilai-nilai tentang sopan santun dalam makan bersama merupakan nilai-nila instrumental. Hal ini karena, bagaimana cara makan yang sopan sering berubah-ubah. Dahulu makan dengan bercakap apalagi berdiri dianggap tidak sopan, tetapi sekarang berkembang pesta berdiri yang diselingi dengan acara bercakap-cakap. Pengembangan nilai-nilai mendapat prhatian yang serius, dalam dunia pendidikan. Hal ini karena pendidikan pada hakikatnya adalah penanaman nilai. Selain itu pendidikan sifatnya normative dalam pengertian positif. Bahkan ada ranah khusus dalam tujuan pendidikan yang mengenai nilai-nilai yaitu ranah afeksi.
4. Manusia sebagai Makhluk Religius
Kata religi sering disetarakan dengan pengertian agama. Akan tetapi pengertian religi sebenarnya lebih luas bila di bandingkan dengan pengertian agama. Hal ini karena pengertian religi menyangkut pengakuan adanya kekuatan lain di luar diri manusia yang sifanya sura natural, yamg secara umum disebut Tuhan. Oleh karena itu, pengertian religi menyangkut pula pengertian kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di samping agama.
Kesadaran tentang eksistensi Tuhn menurut Koentjaraningrat (1987) berawal dari kesadaran manusia akan kematian. Konsep mati sendiri dikenal manusia semenjak manusia menemukan bahasa. Dengan kemampuan bahasanya manusia mampu mengokumunikasikan pengalaman yang diinderanya pada orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Pengalaman kematian ini menyadarkan manusia akan adanya kekuatan lain di luar dirinya, yang selanjutnya disebut Tuhan. Wujud pengakuan akan adanya Tuhan ini melalui proses evolusi yang panjang dan pada tahap tertentu berwujud agama.
Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan, bahwa manusia merupakan makhluk religious, berkesadaran akan Tuhan. Akan tetapi betapapun tidak ada orang tidak mengakui adanya kekuatan lain di luar kemampuan dirinya. Minimal mereka akan menyebutnya dengan hokum alam atau factor keberuntungan (lucky factors). Dengan sangat tepat para pemeluk agama (islam) mengatakan, orang yang demikian dikatakan sebagai orang yang tidak mendapat petunjuk dari Tuhan. Sementara orang yang lain menganggapnya sebagai kekecualian. Namun demikian, di Negara Rusia (Negara yang tidak mengakuia agama/Tuhan) pemimoin puncaknya pernah mengatakan “semoga Tuhan memberi petunjuk jalan) yaitu ketika Gorbachev berkunjung ke Amerika Serikat. Jadi keberadaan Tuhan tetap diakui tetapi tidak secara terus terang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar