Sabtu, 29 November 2014
Landasan atau Titik Pijak Pendidikan
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk menjemput masa depan
a. Landasan Filosofik Pendidikan
Upaya pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemikiran-pemikiran filsafati yang terjadi di belakang peristiwa pendidikan. Filsafat sebagai ilmu dan semua ilmu, berperan untuk mempersoalkan dan mengkaji segala sesuatu yang berada "di belakang" peristiwa pendidikan. Peran filsafat ini yang meletakkan dasar pikiran kepada landasan pendidikan. Landasan filosofik sebagai salah satu pondasi dalam pelaksanaan pendidikan bergayut dengan sistem nilai. Sistem nilai merupakan pandangan seseorang tentang "sesuatu" terutama berkaitan dengan arti kehidupan (pandangan hidup). Pandangan hidup sebagai sistem nilai yang dipegang bukan semata-mata terdapat pada individu, melainkan juga pada sekelompok masyarakat suatu bangsa. Bagi bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa adalah Pancasila. Oleh karena itu kaidah dan norma sosial maupun sistem nilai yang dianut secara nasional mengacu kepada Pancasila. Berkenaan dengan landasan filosofik pepdidikan, maka operasionalisasi pendidikan baik secara makro maupun mikro haruslah berlandaskan Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang ber-Pancasila. Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggungjawab atas pembangunan bangsa (Tap MPR No. II/MPR) Pancasila sebagai landasan filosofik pendididikan, berarti bahwa:
a. Dijiwai dan didasarkan kepada Pancasila.
b. Sistem penyelenggaraan, pembinaan dan pengembangan pendidikan nasional harus berlandaskan Pancasila.
c. Hakikat manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk religius haruslah diwujudkan melalui upaya pendidikan, sehingga akan tercipta integritas kepribadian manusia Indonesia sesuai dengan yang dicita-citakan Pancasila. Filsafat mencakup nilai yang dijunjung tinggi dan dijadikan pedoman perbuatan, dengan demikian dalam keseluruhan proses pendidikan, pendidik harus mempunyai tolehan rnengenai gambaran masyarakat yang dicita-citakan dan bagaimanakah individuyang harus dibentuknya. Di sampmg itu landasan filosofiknya menjadi acuan dalam menentukan tujuan, corak, metode dan alat pendidikap. Selanjutnya arah pendidikan hendaknya bermuara pada aspek mtegralistik (individu dan sosial), aspek etik (taat pada norma-norrna Pancasila), dan aspek religius (kebebasan agama).
b. Landasan Sosiologik Pendidikan
Pendidikan tidak berlangsung dalam arti keadaan vakum sosial. Dua isu yang akan dibahas yaitu: pendidikan dan masyarakat, pendidikan dan perubahan sosial.
Pendidikan dan Masyarakat
Dilihat dari sudut masyarakat secara keseluruhan, fungsi pendidikan untuk memelihara kebudayaan. Kebudayaan berhubungan dengan nilai-nilai, kepercayaan, norma-norma yang turun-temurun dari generasi ke generasi dan mengalami perubahan.
Keluarga dan sekolah
Keluarga merupakan salah satu pelaksanaan sosialisasi di masyarakat. Faktor terpenting dalam hubungan antara keluarga dan sekolah adalah bahwa keluarga tetap mempunyai tanggung jawab utama dalam proses sosialisasi, meskipun sekolah dalam sosialisasi mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan informasi, keterampilan dan nilai-nilai serta norma-norma untuk membekali anak agar dapat berpartisipasi lebih tepat guna.
Pemerintah dan sekolah
Tugas utama pemerintah adalah mengupayakan agar sekolah dapat membentuk masyarakat baru yang bertanggung jawab dan ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat sesuai dengan garis kebijaksanaan pemerintah. Dengan demikian akan tercipta suatu sistem pemerintahan dan pendidikan yang mantap.
Ekonomi dan sekolah
Pertumbuhan ekonomi masyarakat tergantung pada tersedianya tenaga ahli yang terdidik dan terlatih yang dihasilkan oleh sekolah. Sebaliknya keberadaan dan perkembangan lembaga sekolah tergantung pada dana yang disediakan oleh masyarakat.
Agama dan sekolah
Budaya masyarakat banyak dipengaruhi oleh nilai dan norma agama yang dianut masyarakat. Karena sekolah merupakan salah satu lembaga sosialisasi masyarakat yang bertujuan membekali peserta didik agar dapat hidup di masyarakat, maka pendidikan agama menjadi pelajaran sekolah.
Masyarakat dan sekolah
Sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan masyarakat dan tidak bisa lepas dari pengaruh kondisi masyarakat. Sistem persekolahan harus memperhatikan aspirasi masyarakat, sebaliknya masyarakat harus terlibat langsung dalam memelihara keberadaan dan 'kelangsungan sekolah. Peran sekolah terhadap masyarakat adalah:
• Sebagai pewaris, artinya mentransformasikan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai kepada siswa melalui proses belajar-mengajar di dalam kelas maupun kegiatan di luar kelas.
• Sebagai pemelihara, artinya melalui sekolah dapat diupayakan kelestarian nilai-nilai budaya yang sudah mapan.
• Sebagai agen pembaharuan, yang meliputi reproduksi berdaya, difusi kebudayaan, dan peningkatan kemampuan peserta didik berpikir kritis.
c. Landasan Kultural Pendidikan
Sebagai salah satu faktor yang ikut menentukan kelangsungan hidup suatu masyarakat adalah kesanggupan dan kemampuan anggotanya untuk mendukung nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Pendidikan sebagai sub-sistem masyarakat mempunyai peranan mewariskan, memelihara dan sekaligus sebagai agen pembaharuan kebudayaan.Pendidikan dapat dikonsepkan sebagai proses budaya manusia. Kegiatanya dapat berwujud sebagai upaya yang dipikirkan, dirasakan dan dikehendaki manusia. Pada dasarnya pendidikan merupakan unsur dan peristiwa budaya. Pendidikan melibatkan sekaligus kiat dan disiplin pengetahuan mempengaruhi manusia belajar. Pendidikan merupakan proses budaya, yakni generasi manusia berturut-turut mengambil peran sehingga menghasilkan peradaban masa lampau dan mengambil peranan di masa kini dan mampu menciptakan peradaban di masa depan. Dengan kata lain pendidikan memiliki tiga peran, sebagai pewarisan, sebagai pemegang peran dan sebagai pemberi kontribusi. Dengan demikian dapat dipahami pendidikan sebagai aset untuk pemeliharaan masa lampau, penguatan individu dan masyarakat yang sekarang serta sebagai peny'apan manusia berperan di masa datang. Pendidikan sebagai proses upaya pemeliharaan dan peran dalam membangun peradaban dan pendidikan tidak terbatas pada benda-benda yang tampak seperti bangunan fisik, melainkan meliputi: gagasan, perasaan dan kebiasaan, peran dan alam kehidupan sekarang juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masa yang akan datang, karena pemeliharaan peradaban manusia merupakan tugas tanpa akhir.
d. Landasan Ilmiah dan Teknologi Pendidikan
Salah satu nilai pendidikan adalah membekali peserta didik agar dapat mengembangkan iptek. Kemampuan dalam bidang iptek menyangkut kemampuan dalam ilmu pengetahuan (science), rekayasa (engineering) dan teknologi. Kegiatan ilmu pengetahuan yang menyangkut proses meuyelidiki suatu fenomena yang menghasilkan teori, model dan cara-cara untuk mempengaruhi fenomena tersebut. Kegiatan teknologi adalah proses memproduksi barang dan jasa, yang juga menghasilkan sejumlah konsep dan metode mengenai proses produksi tersebut. Kegiatan rekayasa menghubungkan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu mencari bagaimana caranya menyelesaikan suatu masalah. Dengan spektrum kegiatan iptek tersebut, kontribusi pendidikan terhadap kemajuan iptek dapat berupa mulai dari kegiatan hafalan meneliti suatu fenomena, menyelesaikan masalah dan sampai produksi barang. Hubungan antara pendidikan dan iptek saling bergantung dan timbal balik, artinya kemajuan pendidikan diarahkan untuk kemajuan iptek, sebaliknya perkembangan iptek akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan. Ini berarti bahwa operasionalisasi pendidikan harus pula berlandaskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar pendidikan tidak ketinggalan dengan pesatnya kemajuan iptek.
Landasan Ilmiah dan Teknologi Pendidikan
Salah satu nilai pendidikan adalah membekali peserta didik agar dapat mengembangkan iptek. Kemampuan dalam bidang iptek menyangkut kemampuan dalam ilmu pengetahuan (science), rekayasa (engineering) dan teknologi. Kegiatan ilmu pengetahuan yang menyangkut proses meuyelidiki suatu fenomena yang menghasilkan teori, model dan cara-cara untuk mempengaruhi fenomena tersebut. Kegiatan teknologi adalah proses memproduksi barang dan jasa, yang juga menghasilkan sejumlah konsep dan metode mengenai proses produksi tersebut. Kegiatan rekayasa menghubungkan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu mencari bagaimana caranya menyelesaikan suatu masalah. Dengan spektrum kegiatan iptek tersebut, kontribusi pendidikan terhadap kemajuan iptek dapat berupa mulai dari kegiatan hafalan meneliti suatu fenomena, menyelesaikan masalah dan sampai produksi barang. Hubungan antara pendidikan dan iptek saling bergantung dan timbal balik, artinya kemajuan pendidikan diarahkan untuk kemajuan iptek, sebaliknya perkembangan iptek akan berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan. Ini berarti bahwa operasionalisasi pendidikan harus pula berlandaskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar pendidikan tidak ketinggalan dengan pesatnya kemajuan iptek.
Asumsi-asumsi apakah yang kiranya dapat berjalan beriringan dengan kemajuan iptek. Asumsi-asumsi tersebut menurut Tosten Husen (1988: 212), adalah:
a. Pendidikan akan menjadi proses seumur hidup.
b. Pendidikan tidak akan lagi terputus-putus, pendidikan akan lebih banyak merupakan proses terus menerus dipandang dari perjalanan waktu maupun dari segi keterpaduannya di dalam fungsi-fungsi lain di dalam kehidupan.
c. Pendidikan formal yang biasa berlangsung di gedung sekolah konvensional akan lebih mempunyai arti dan lebih relevan dalam hal penerapannya, karena dapat dijangkau oleh semakin banyaknya perorangan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka agar pendidikan selalu bergayut dengan perkembangan iptek, diperlukan adanya reorientasi mengenai arah dan tujuan pendidikan di sekolah yaitu tidak lagi mengutamakan alih pengetahuan, melainkan peningkatan kemampuan belajar (learning capacity) siswa dan belajar seumur hidup tanpa akhir. Hal ini berarti perlu kita tanggalkan selekas-lekasnya sistem pengajaran secara hafalan di luar kepala, secara memorisasi, pada semua tingkat sistem pendidikan. Cara mendidik harus mengakui dan menerima individualitas setiap siswa, dan mencoba merangsangnya untuk berpikir sendiri secara kritis dan krearif.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar